Selasa, 16 Oktober 2012

Bukan Cuma Mama



Saya sedang menulis postingan ini sehabis hujan turun. Teringat kalau saya juga belum makan malam. Ah... pikiran saya melayang-layang jauh menuju rumah. Kalau jam segini pasti keluarga dirumah sedang makan bersama sambil nonton tv, adik-adik saya pasti dengan setia menonton acara kartun spongebob yang heran adalah kenapa mereka mau menonton makhluk kotak kuning yang tidak jelas itu berulang-ulang. Setelah itu, pasti mereka bergegas sholat maghrib/isya` berjamaah yang dilanjutkan dengan mengaji.

Hmmm.... keadaan itu nampak kontras sekali. Malam-malam begini dengan hawa yang dingin karena Malang sehabis diguyur hujan, saya baru saja pulang kuliah. Setelah sampai bukannya disambut dengan makan malam yang telah siap diatas meja, ataupun secangkir teh hangat yang dapat menghangatkan tubuh, yang ada hanyalah saya yang tersadar kalau saya sangat kelaparan. What a pity I`m....

Kalau sudah seperti ini, buru-buru harus mereset otak saya lagi. Mengingatkan kalau sekarang saya bukan anak kecil lagi yang selalu dalam pantauan orangtua, tapi harus menjadi seseorang yang mandiri. Terkadang kasih sayang keluarga justru lebih berarti saat kita jauh dari mereka.

Kebanyakan orang membicarakan kasih sayang seorang ibu, atau mungkin juga banyak lagu-lagu yang kita temui saat ini bercerita tentang bunda. Sejenak saya berpikir, lalu kemanakah para ayah? Apa mereka hilang begitu saja, seolah jasa-jasa mereka dilupakan. Teringat sosok ayah dirumah, walaupun terkadang beliau tampak dari luar menyeramkan tapi saya tau beliau sebenarnya yang paling menyayangi keluarga. Tersadar, sejak saya kuliah banyak perhatian beliau yang ditunjukkannya yang kalau boleh dibilang lebih dari mama.

Ayah saya kini tentunya tidak muda lagi, nampak garis-garis di wajahnya yang menambah kesan tua. Tapi anehnya saya tidak tau berapa umur beliau, karena sampai sekarang saya tidak pernah ingat kapan ulangtahunnya. Ya ampun durhaka sekali saya ini.... Sejak kuliah, terkadang dalam seminggu beliau selalu menelepon beberapa kali, walau hanya sekedar menanyakan keadaan saya bagaimana, sudah makan atau belum, kadang-kadang menanyakan kapan pulang ke Pandaan. Biasanya saya hanya menjawab sekedarnya saja. Padahal jarang sekali saya menelpon, seminggu sekali kalaupun ingat atau bahan tidak pernah . Terlalu sibuk dengan urusan kampus. Aihh.... semakin merasa berdosa saja. Frekuensi beliau menelpon bahkan lebih sering dibanding mama. Aneh ya, yang suka cerewet atau perhatian kan seharusnya para kaum ibu.

Banyak dari kita yang semakin beranjak dewasa melupakan sosok keluarga. Saya juga sadar, terkadang hal itulah yang kadang melanda diri saya. Hormon "remaja"yang mempengaruhi otak terkadang membuat kita menjadi asyik sendiri di dunia kita .Padahal kalau dipikir-pikir yang membawa kita sampai menjadi seseorang seperti ini tidak lain adalah keluarga khususnya orangtua.

Ketika mengingat semua itu, saya langsung introspeksi diri. Apa yang sudah bisa saya lakukan untuk mereka?. Tapi yang ada saya belum bisa memberikan apa-apa. Dua tahun lalu ketika saya tidak lolos SNMPTN, ayah bukannya memarahi saya. Beliau malah tersenyum dan mengatakan "kapan pendaftaran Unmuh?". Padahal saya sendiri sudah patah semangat rasanya, pengen nangis, pengen marah, malu rasanya... sudah daftar dimana-mana tapi kok belum keterima di PTN. Waktu itu ayah juga yang selalu setia mengantarkan saya ujian masuk dimana-mana. Mengingat waktu beliau yang lebih fleksibel dibandingkan mama yang PNS. Trenyuh rasanya, begitu banyak yang dilakukan oleh orangtua khususnya ayah tapi saya tidak bisa memberikan apa-apa, tidak bisa membanggakan beliau, tidak bisa mempersembahkan sesuatu walaupun sekedar dibidang akademis saja. Coba deh bayangkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk semua itu.

Untuk merubah semua itu, saya bertekad disemester ini Kalau tidak ada acara atau kepentingan di kampus paling tidak dalam dua minggu sekali saya pulkam. Saya hanya berpikir, selama orangtua masih lengkap masih ada, jarak ke rumah tidak terlalu jauh alangkah durhaka sekali kalau tidak pernah pulang. Bismillahirrohmanirrohim.... semoga saya belum terlambat untuk semua itu.