Senin, 04 Februari 2013

Adiaroz, Aydan, dan Kakek Bodo



Bingung mo kasih judul postingan apa, jadinya ini deh. hehe..
Tiga hari yang lalu waktu saya ada di malang, ada sms masuk ke nokia saya. Ternyata dari dulur saya satu ini, Nadya...
Kapan pulang dulur bsk main krmh yuks t ajak renang ke TK selesai ank2nya pulang. Tempatnya bagus lho ;-)

Tak lama kemudian jari-jari saya sibuk menyentuh layar buat balas sms singkat ini

Ya insyaallah ntar sore...
Ayo dulen.. Tp aq gk ad motor :(

Tak jemputkah dulur, pandaan aman kan gada operasi?

Wuih.... baik banget dulur saya yang satu ini. Singkat cerita saya setuju. Akhirnya sore itu saya pulang dari Malang ke Pandaan, walaupun ditengah jalan ditemani oleh cuaca yang tidak bersahabat, hujan...
Esok harinya jam setengah 8 pagi saya sudah bersiap-siap berangkat, maklum ke perempatan Kasri Pandaan nebeng sama ayah berangkat kerja lagian kalau siang-siang takutnya ntar hujan. Sambil mengecek isi tas, saya cuma membawa dompet, hp, dan nggak lupa kamera buat ntar narsis bareng. hehe...
Sebenernya gak ada planning buat pergi ke kakek bodo, awalnya tujuan kami cuma renang. Tapi berhubung Kakek Bodo itu deket dan melewati rumah Nadya alhasil saya kepengen kesana. Refreshing sekalian pingin tau gimana soalnya walaupun deket dari Pandaan, ini yang pertama kali saya kesana. Ya Allah.. katrok banget ternyata saya ini

Bagi yang belum tau, Kakek Bodo adalah kawasan wisata air terjun milik perum perhutani di daerah lereng gunung welirang pegunungan Prigen, Tretes, Jawa timur. Gak tau kenapa namanya Kakek Bodo. Menurut cerita (dari mbah google :p) Di beri nama Kakek Bodo karena mengisahkan seorang kakek yang di sebut dengan kakek yang bodoh (bodo).  Menurut cerita penduduk setempat "Kakek Bodo" dahulunya adalah seorang pembantu rumah tangga keluarga Belanda. Dia seorang yang saleh dan jujur. Dia meninggalkan keluarga Belanda tersebut untuk mensucikan diri meninggalkan masalah keduniawian dengan bertapa. Karena sikapnya ini keluarga Belanda yang ditinggalkannya menyebutnya sebagai kakek yang bodoh (Kakek Bodo).

Berkat bertapanya sang kakek memiliki kelebihan/kesaktian yang digunakan untuk membantu masyarakat setempat yang meminta pertolongan. Kakek Bodo meninggal di tempat bertapa. Makamnya sampai sekarang dikeramatkan oleh penduduk setempat dan banyak dikunjungi para pejiarah dari berbagai kota besar.  

Hmm... Cerita yang aneh. Dulu sewaktu saya masih kecil saya kira kakeknya bodoh beneran. Tapi kalau emang gitu mana mungkin si kakek nemuin air terjun. Tapi kalau diganti namanya jadi kakek pintar ntar dikira malah promosi obat to**k ang*n lagi. haha.... gak tau lah, itu sih suka-suka kepercayaan penduduk sekitar menurut saya. 

Jalan ke kawasan Tretes, Prigen mirip-mirip sama kota Batu di Malang. Udaranya bersih, dingin, di tepi jalan banyak sekali pepohonan banyak juga yang menjual tanaman hias. Oh iya... sebelum sampai di Tretes kalau mau berwisata sejarah juga ada. Ada candi peninggalan kerajaan Singosari namanya Candi Jawi. Candi ini terletak di pertengan jalan raya Pandaan - Prigen. Konon, candi jawi merupakan tempat penyimpanan sebagian abu dari raja terakhir kerajaan Singosari, Kertanegara. Dimana yang sebagian lagi disimpan di candi Singosari.



(Candi Jawi)

Memasuki kawasan wisata Kakek Bodo, hanya terlihat beberapa orang. Mungkin karena bukan weekend makanya gak rame. Hanya ada segelintir orang, kami berdua, segerombolan tukang ojek, dan penjaga karcis. Kasian sekali....

Setelah membeli karcis di loket, saya dan Nadya masuk kawasan wisata. Ternyata di dalam pun masih sama, sepi sekali. Hanya ada kami berdua dan sesekali orang lewat. Jadi serasa milik pribadi aja, haha...
Lalu dulur saya yang satu ini bilang kalau kita ke kolam renangnya aja dulu, soalnya air terjunnya sndiri masih diatas. Hadeh.... saya kira tinggal masuk, triiing.... langsung ada air terjun. Tapi ternyata kita harus menjadi ninja hatori dulu, mendaki gunung... lewati lembah...


(Where`re we going now??)

(kayaknya kami datang terlalu pagi, kolam renangnya masih dikuras -_-")


(Hayoo... apa ya itu??)


Agak kecewa sih, soalnya kolam renangnya tutup, udah gitu suasanya sepi banget kayak kuburan. Dan kami baru sadar kalau hari itu adalah hari Jum`at legi. Kata Nadya, kalau jum`at legi jarang ada yang kesini soalnya itu waktu untuk berdoa di makam Kakek Bodo. Pantesan.... -__-"
Aigoo... ya sudahlah diteruskan saja perjalanannya, naek-nak ke puncak gunung. Ternyata jauh juga ya ke air terjunnya. Saya teringat dulu waktu ke air terjun Coban Rondo di Batu Malang, ya mirip-mirip gitulah. Saya kasih share aja ya foto-fotonya... ^_^


(mendung.. jadi tambah mistis aja)


(mari kita sholat dulu teman-teman)


(Naik..naik... ke puncak gunung)

(jangan bunuh diri ya mbak..)


(bisa baca sendiri kan,,)


(Yasiin... Al-Fatihah...)


Akhirnya sampailah kami di air terjun. hati-hati bila melewati sungai kecil sepanjang air terjun. Karena terdapat banyak lintah yang siap menghisap darah anda. Haha... kalau Edward Cullen sih aku juga mau :p
Walau banyak batu-batu sungai tapi airnya yang segar dan dingin dijamin dapat sejenak menghilangkan stress anda. Jadi sempatkan waktu untuk sekedar berendam kaki disana. Oh iya... ada fenomena aneh waktu kami kesana. Air terjun yang seharusnya ada satu jadi beranak, ada air terjun baru yang terbentuk. Mungkin karena musim hujan akhir-akhir ini. What`s a lucky today... haha


(maen air dulu ah...)


(air terjun baru...)


(air terjun utama...)


(tumpaseaee.... yumuskuraee... kuch kuch hotahai :D)


Walaupun masih btah disana, tapi kami cepat-cepat pulang. Bukan karena apa, selain karena ketakutan mengingat hari itu jum`at legi (ketauan penakut...) langit terlihat tambah mendung. Ketimbang ntar pulang berbasah-basah ria, lagian kami belum juga ke planning awal yaitu renang... Pokok nya terimakasih buat dulur saya Nadya yang sudah bersedia menjadi tour guide saya selama di sini. Ditambah lagi sudah ngrepotin, karena udah nginep semaleman di rumahnya gara-gara hujan yang gak reda-reda. Pokoknya sekali lagi terimah kasih ya dulur. It`s a nice day,,, :)




(Masa Kecil Kurang Bahagia... hahaha)

Minggu, 03 Februari 2013

Bukit Teletubbies di Bromo



Masih inget acara anak-anak yang satu ini??
Dulu kira-kira waktu jaman saya masih SD, setiap jam 10 saya selalu udah stand by di depan tv. Tangan pegang remote, pindah ke channel ikan terbang nunggu 4 makhluk absurd ini muncul. Begitu lagu opening masuk lalu si tingkiwingki, dipsi, lala nggak ketinggalan poo muncul lewat lubang atap rumah. Kemudian gak lupa mereka joget-joget keliling padang rumput dengan tampang yang nggak berdosa. Kalau dipikir sekarang, kok bisa ya saya suka sama mereka. 4 makhluk aneh dengan layar televisi di perutnya gak lupa antena beraneka macam bentuk udah gitu gak pake baju lagi. Dibilang manusia nggak... dibilang hewan nggak juga... dibilang tumbuhan apalagi. Benar-benar absurd sekali........ hahaha

Tapi yang paling saya sukai dari acara ini adalah setting tempatnya. Terhampar padang rumput yang luas, banyak bukitnya dan bunga-bunga yang tumbuh. Wuihh.... ngiri banget lihat para teletubbies bisa tinggal di tempat kayak gitu. Apalagi lihat kandang rumahnya teletubbies yang unik gitu. ada perosotan di atas rumahnya, bentuknya juga kayak rumah iglo di kutub utara. Tapi yang paling saya nggak ngerti sampe` sekarang adalah tempat tidurnya si teletubbies yang kecil banget, padahal badan mereka kan segede gajah.

Lalu saya berpikir. Ada nggak ya tempat kayak gitu di muka bumi. Apa itu cuma khayalan si produsernya teletubbies doang, supaya anak-anak kecil kayak saya dulu bisa seneng sekaligus takjub. Whatever,,, Nyatanya minggu lalu saya pergi ke tempat yang mirip sama padang rumputnya si teletubbies. Gak perlu jauh-jauh sampe` ke luar negeri segala karena ternyata ada di negeri kita sendiri lo tepatnya di Bromo, Probolinggo, Jawa Timur. Tapi penduduk sekitar menyebutnya "Bukit Teletubbies"



(hmm... tulisannya salah. haha)



Minggu lalu, saya pergi ke Bromo dengan mama dan adek saya. Jujur saja, ini yang pertama kalinya saya ke bromo. Tips saja bagi yang ingin pergi ke bromo, kalau berangkat lebih baik melewati jalur dari probolinggo. Yang pasti jika melewati daerah Puspo seperti saya, yang ada kita bakalan merasakan sensasi jet coaster. Jalan yang berkelok kayak ular plus lebar jalan yang relatif sempit dan disampingnya terkadang ada jurang. Mirip-mirip jalur ke Malang - Kediri kalau naek bis Puspa Indah. Perjalanan yang cukup lama, jadi sebaiknya berangkat pada sore hari, agar esoknya kita lebih leluasa jalan-jalan dan jangan lupa menikmati panorama sunrise di daerah penanjakan sekitar jam 5-6 pagi. 

Back to topic...
Bapak-bapak di penginapan bilang kalau di bromo ini selain terkenal dengan matahari terbit di penanjakan, kawah gunung bromo, ada juga padang rumput bukit teletubbies. Kening saya berkerut mendengar penjelasan bapak-bapak yang satui ini. Bukannya saya tidak percaya, tapi saya nggak yakin bapak itu tau teletubbies itu apa. Mengingat usia bapak-bapak ini boleh dibilang sudah tua, kenal nggak ya sama yang begituan soalnya biasanya nontonnya kan cuma acara campur sari doang. hehe...

Cuaca pagi hari saat itu lumayan cerah. Gak panas dan gak juga mendung. Setelah puas menikmati sunrise di penanjakan, lokasi selanjutnya yang dituju adalah padanga savana a.k.a bukit teletubbies. Yang membuat saya takjub adalah panorama sepanjang jalan. Seperti biasanya melewati tebing dan jalan yang berkelok-kelok dan pastinya dikelilingi hutan. Namun setelah itu terhampar sebuah padang pasir yang luas banget. Nggak ada apa-apa yang terlihat, sejauh memandang yang ada ya pasir. Pasir hitam...












(settingnya cocok buat film perang,,)


Tandus dan kering itu yang ada dalam pikiran saya. Sambil melewati padang pasir si bapak supir berkata pada kami.
"Disini pernah jadi tempat syutingnya Dian Sastro lo mbak...". sambil senyum-senyum sendiri. Mungkin dia sambil ngebayangin wajahnya si dian sastro yang cantik aduhai itu tapi gak nyadar tampangnya sendiri.
Tidak mengherankan memang alam bromo yang sangat indah ini sering dipakai untuk syuting film. Kalau lihat ftv biasanya kadang settingnya di bromo. Lalu saya kepikiran kalau saya buat film disini judulnya apa ya??
Mungkin... "Tersesat di Bromo". Jadi ntar isinya cuma orang lari-lari keliling bukit pasir 7 hari 7 malem, yang endingnya dia pingsan karena dehidrasi. hahaha...

Aneh tapi nyata memang, setelah melewati kawasan berpasir yang jarang sekali terdapat tumbuhan. Pemandangan berubah jadi padang bunga. Banyak bunga berwarna ungu atau kuning, mirip-mirip bunga edelweiss, bunga khas gunung, kontras sekali... Jalan yang kami lalui juga tidak mulus. Banyak bebatuan, serasa ikut perjalanan off road. Maka dari itu kebanyakan kendaraan didaerah sini tipenya mobil hartop/jip atau sepeda motor trail, maklum kondisi alam didaerah Bromo banyak menanjak, berpasir dan berbatu. Kalau Mio saya dibawa kesini kuat nggak ya...

(sensasinya naik ini...mantap!!)


(yang tradisional juga ada...)


Tidak lama kemudian kami sampai di tempat tujuan. Kami disambut oleh sebuah padang hijau yang dikelilingi  tebing-tebing berbatu. Subhanallah.... serasa di tempat lain rasanya. Ternyata wallpaper2 di lappy itu nyata ya. haha.... Saya kasih share foto-fotonya aja ya,,












Well... kenapa saya menceritakan lebih banyak part bukit teletubbies dibanding yang lain??
Karena menurut saya, dari semua tempat yang kami kunjungi, disitu yang membuat saya paling berkesan. Rasanya kita sangatlah kecil dihadapan Allah. Ada banyak tempat wisata di bromo. Seperti melihat sunrise di penanjakan, pasir berbisik, atau yang paling utama kawah gunung bromo. Kata penduduk sekitar waktu yang paling pas untuk mengunjungi gunung bromo adalah pada bulan september. Karena di bulan ini bertepatan dengan upacara kasada, upacara tradisonal khas suku tengger. Mereka melemparkan sesajen ke kawah gunung. Kalau masih inget cerita rakyat suku tengger bisa dibuka tuh, roro anteng dan joko seger. Hayoo... sapa yang tau.

Siap-siap kondisi badan yang fit aja kalau kesana. Mengingat udaranya yang dingin banget kalau pagi, jadi jangan lupa bawa jeket tebel, sarung tangan, kupluk, kaos kaki, dan pastinya sepatu ini remeh tapi penting. Mengingat jalanan terjal juga, jadi lebih enak pake sepatu ketimbang sendal lebih anget dan nyaman.hehe.. Buat view yang lain saya kasih share aja fotonya. Pokoknya dijamin puas dah kalau berkunjung ke Bromo. Saya berharap suatu saat ini bisa kembali mengunjungi gunung eksotis yang satu ini lagi. Amiiin.... ^_^


(sunrise... untung gak lagi mendung)

(rame-rame lihat sunrise, aduh gak kelihatan...)




(subhanallah....)




(pura hindu bromo di tengah padang pasir)




(jalan terjal setapak ke kawah gunung bromo)




(awas tangga curam,,)




(kalau ke lempar ke kawah jadi apa ya?? )